Abdullah Bin Saba' Sang Provokator (2)

By. Muchotob Hamzah

Dengan adanya friksi tentang suksesi di Negara Madinah, strategi Abdullah Bin Saba' Al-Yahud As-Shan'ani Al-Yamani (10 SH.s/d 50 H.) langsung menohok via jantung agama, yaitu teologi. Sehingga awal perpecahan dalam Islam justru soal politik. Ini berbeda dengan perpecahan di kalangan agama lain. Akhirnya negara Madinah yang berdasar "Kitaabun Nabiyy"=Piagam Madinah yang berpayung Al-Qur'an ini semakin memanas dengan isu politik. Taktik yang dipakai Ibnu Saba' adalah mengkultuskan khalifah Ali Bin Abi Talib Kw. dengan menyebut khalifah berupa ungkapan "Anta...Anta...Anta (maksudnya Engkau=Tuhan). Juga ia menyebut beliau sebagai Pencipta dan Pemberi rizqi" (Ibnu Badran, Tahdzib at-Tarikh ad-Dimasqy VII/430). Dan setelah syahidnya Ali kw. sekalipun, Bin Saba' memitoskan beliau tidak wafat (Abd. Thahir Bin Muhammad al-Baghdadi, Al-Farq Bain al-Firaq, hlm. 234).

Isu penuhanan kepada Imam Ali kw. ini menjadi ide dasar ajaran kelompok-nya Abdullah Bin Saba', yang ditolak oleh Imam Ali kw.dan para sahabatnya. Pengikut beliau seperti Miqdad, Salman al-Farisi, Bilal Bin Rabah, Abu Dzar al-Ghifari ra.dll. melawan semua orang yang mengikuti ideologi ini.

Titik awal ideologi partai ini ketika zaman Nabi saw. ada penunjukan Ali kw.menjadi pemimpin Madinah ad interim pada perang Tabuk (9H./630 M.), yang ditafsirkan sementara sahabat sebagai sinyal penyerahan kekuasaan dari nabi kepadanya di kelak kemudian hari. Demikian juga ditunjuknya Abu Bakar ra. sebagai imam dalam salat jamaah oleh Nabi saw. Peristiwa imam jamaah ini pula yang dijadikan hujjah Umar Bin Khatthab ra. di forum musyawarah Tsaqifah Bani Sa'idah untuk memilih khalifah Abu Bakar ra. menjadi khalifah.

Sejatinya peristiwa yang menjadi embrio partai tersebut adalah merupakan hal alamiyah dari setiap kekuasaan manapun di dunia ini. Hanya saja jika lahirnya partai politik itu menetas pada ranah yang fundamental, yaitu teologi dan bukan fikih, konsekuensinya sangat dalam dan melebar. Karena dengan teologi yang mapan dari sebuah partai, daya juang, daya pukul dan daya tahannya akan lebih kuat. Maka jikalau dikendalikan oleh orang atau kelompok distruktif, daya hancurnya juga lebih kuat dan mematikan. Sebaliknya jika dikendalikan orang kuat yang bertakwa, berkahnya bisa melimpah ruah.

Perlu ditandaskan, bahwa kendatipun platfom politik Imam Ali kw.sejak awal adalah statusquo Ahlu Bait, tetapi memiliki perbedaan ideologi apalagi teologi dengan Bin Saba' ini. Posisi partai-(nya) Abdullah Bin Saba' justru mempersulit posisi beliau, karena mudah menjadi sasaran tembak dari lawan politiknya. Dilema yang terjadi mendorong lahirnya partai politik "Syiah" oleh Al-Muzni dkk.yang platformnya mendukung Khalifah Ali kw. dalam perang Sifin (37 H.) dan sesudahnya. Jadi Syiah bukan lahir di zaman Rasulullah saw. sebagaimana klaim kebanyakan orang Syiah. Embrionya memang sudah lama ada, tetapi lahirnya di atas tanah baru bersamaan dengan partai Khawarij yang mentakfir sahabat yang terlibat tahkim khususnya Ali kw. Kemudian disusul oleh partai Sunni yang awalnya lebih cenderung ingin netral secara politik.

Perbedaan ideologi Ibnu Saba' dan Al-Muzni bisa dirunut dari usaha dari Imam Ali kw. untuk menghukum penyimpangan teologis dari Abdullah Bin Saba'. Sebelum wafat Imam Ali kw.telah banyak menghukum pengikut Abdullah Bin Saba'. Beliau diriwayatkan menghukum "bakar" Abdullah Bin Saba' yang karena isu teologisnya penuh dengan TBC: takhayul, bid'ah dan khurafat ----istilah Pak Amien Rais--- (Bukhari, 2794; Abu Dawud, 4351 dll.).

Versi lain menyebut tentang akhir hidup Abdullah Bin Saba'.yang setelah khalifah Ali kw. bertekad membakar dia, kemudian beliau menggantinya dengan hukuman "buang" ke Madain Kisra (Ad-Dzahabi, Shidu an- Naba; Ibnu Taimiyah, Sharim al-Maslul jilid 3). Hal tsb. terjadi setelah ada masukan dari pendapat Sahabat besar Abdullah Bin Abbas ra.

Wallaahu A'lam bis-Shawaab!

Komentar